بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Washinya Ahmad Al-Musytofa

Ibnu Abbas llah mengabulkan doa nabi-Nya dan menganugerahkan Ali kepada beliau, yang membantu memerangi musuh-musuh beliau."(Syawahid al-Tanzil, jil. I, hal. 453 hal. 86)

Nabi saww pernah berdoa,"Ya Allah, Musa telah memohon kepadamu agar Engkau memberinya seorang penolong. Engkau mengabulkan permintaannya dan berfirman:

Kami akan membantumu dengan saudaramu dan Kami akan memberi kalian berdua kekuasaan yang besar. Mereka tidak dapat mengusik kalian. Pergilah dengan membawa ayat-ayat Kami. Kalian dan para pengikut kalianlah yang akan menang.(al-Qashash: 35)

Ya Allah aku adalah Muhammad nabi-Mu. Maka lapangkanlah dadaku, prmudahkanlah urusanku, dan jadikanlah Ali penolongku"

Abu Dzar berkata,"Sebelum Nabi menyelesaikan doanya,Jibril turun dan berkata kepada beliau,

'Wahai Muhammad, bacalah.'

Beliau bertanya, 'Apa yang kubaca?'

Jibril menjawab, 'Bacalah ayat:

Sesungguhnya pemimpin kalian adalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang beriman yang menegakkan shalat dan memberikan zakat saat ruku.'"
(Tafsir Razi, jil.XII, hal. 26; Tadzkirat al-Khawwash, hal. 24 bab II; al-Tharaif, jil. I, hal. 47)

Agama

"Berpeganglah kamu semua dengan tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”QS. Ali Imran: 103

Telah diriwayatkan oleh al-Imam ats-Tsa’labditurunkan untuk Ahlul Bait, seperti yang disebutkannya dalam bab 11 dari kitabnya as-Sawa’iq. Ia mengutip penjelasan Imam Ja’far ash-Shadiq diatas melalui riwayat ats-Tsa’labi.Silahkan rujuk:i dalam tafsirnya tentang ayat ini, dengan sanadnya kepada Abban bin Taghlib, dari Imam Ja’far ash-Shadiq as, yang berkata

“Kami (Ahlul Bait) yang dimaksud dengan tali Allah dalam ayat tersebut".

Ibnu Hajar juga telah menggolongkan ayat tersebut dalam ayat-ayat yang

1. Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, halaman 130, hadis ke: 177, 178, 179, dan 180.
2. Ash-Shawa’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Al-Haitsami Asy-Syafi’i, halaman 149, cet. Al-Muhammadiyah; halaman 90, cet. Al-Maimaniyah, Mesir.
3. Yanabi’ul Mawadah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, halaman: 139, 328, 356, cet. Al-Haidariyah; halaman: 119, 274, dan 279, cet. Islambul.
4. Al-Ittihaf Bihubbi Al-Asyraf, oleh Asy-Syabrawi Asy-Syafi’i, halaman 76.
5. Ruhul Ma’ani, oleh Al-Alusi, jilid 4, halaman 16.
6. Nurul Abshar, oleh Asy-Syablanji, halaman 102, cet. As-Sa’idiyah; halaman 101, cet. Al- ‘Utsmaniyah.
7. Is’afur Raghibin, oleh Ash-shabban Asy-Syafi’i, halaman 107, cet. As-Sa’idiyah; halaman 100, cet. Al-‘Utsmaniyah.

Lahiriah Dan Bathiniah

Dalam sebuah sabdanya, Imam Ja'far al-Shadiq menyatakan,"Hai Haitsam! Sesungguhnya ada suatu kaum yang mengimani (meyakini) lahiriahnya (al-Quran) dan kafir akan sisi batiniahnya. Maka, yang demikian itu sama sekali tidaklah menguntungkan mereka. Kemudian datanglah suatu kaum setelah mereka yang mengimani sisi batiniah (al-Quran) dan kafir akan sisi lahiriahnya. Maka yang demikian itu (juga) sama sekali tidaklah menguntungkan mereka. Tidaklah (sempurna) keimanan seseorang terhadap lahiriahnya (al-Quran) melainkan bersamaan dengan itu dia harus mengimani batiniahnya, dan (tidak sempurna pula) keimanan seseorang terhadap batiniah al-Quran melainkan dia juga harus mengimani sisi lahiriahnya."[1]


[1].Tsawwab al-A'mal, hal 279.


MAKSUM

Al-Ma'mun berkata,"Alangkah baiknya kamu wahai Abu al Hassan (ar-Ridha). Lalu beritahukanlah kepadaku tentang firman Allah Azza wa jalla: Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang (QS. al-Fath: 1)

Ar-Ridha as menjawab,"Tidak ada seorang pun dalam pandangan orang-orang musyrik Mekah yang lebih besar dosanya daripada Rasulullah saw. Sebab, mereka telah menyembah selain Allah tiga ratus enam puluh berhala. Kemudian ketika Rasulullah saw datang kepada mereka dengan membawa seruan kepada kalimat 'al-ikhlash'(tauhid), maka menjadi amat beratlah hal itu bagi mereka dan amat besar dosanya dalam pandangan mereka. Mereka berkata, Mengapa dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata),'Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan' (QS. Shad: 5-7)

"Ketika Allah memberikan kemenangan berupa penaklukan Mekah kepada Nabi-Nya, Muhammad saw, Allah berfirman kepadanya, Hai Muhammad, sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberikan ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Setelah penaklukan Mekah, orang-orang musyriknya sebagian memeluk agama Islam dan sebagian lain keluar dari Mekah. Yang tersisa tidak kuasa untuk menolak seruan tauhid. Oleh kerana itu, jadilah "dosa Nabi" dalam anggapan mereka terampuni dengan kemenangannya terhadap mereka."

Pimpinan Suci

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا أَطيعُوا اللهَ وَ أَطيعُوا الرَّسُولَ وَ أُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنازَعْتُمْ في‏ شَيْ‏ءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَ الرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الْآخِرِ ذلِكَ خَيْرٌ وَ أَحْسَنُ تَأْويلاً

“Wahai Orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul dan Ulil Amri di kalangan kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. " (An-Nisa;59).

Di dalam Tafsir al-Burhan, dari Ibnu Babuwayh, yang bersanad dari Jabir bin Abdullah al-Ansari, ia mengatakan:Ketika Allah menurunkan kepada Nabi-Nya ayat " Aku bertanya: Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui Allah dan RasulNya tetapi siapakah Ulil Amri yang Allah kaitkan ketaatan kepada mereka dengan ketaatan kepadamu? Nabi menjawab:"Wahai Jabir, mereka itu adalah para penggantiku dan Imam ummat Islam sesudahku: Pertama Ali bin Abi Talib, kemudian al-Hasan, kemudian al-Husayn, kemudian Ali bin al-Husayn, kemudian Muhammad bin Ali yang terkenal dalam Taurat dengan gelaran al-Baqir. Wahai Jabir kamu akan menemuinya dan jika kamu menemuinya sampaikan salamku kepadanya, kemudian as-Sadiq Ja'far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja'far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian al-Hasan bin Ali, kemudian dua nama Muhammad dan dua gelaran Hujjatullah di bumiNya dan Baqiyatullah bagi hamba-hambaNya, Ibnu Hasan, dialah yang Allah bukakan sebutan namanya di bumi bahagian Barat dan Timur, dialah yang ghaib dari para pengikutnya dan kekasihnya, asrar haura: dialah yang ghaib dari para pengikutnya dan kekasihnya, yang keghaibannya menggoncangkan keimanan kecuali bagi orang-orang yang Allah kukuhkan keimanan dalam hatinya. Selanjutnya Jabir berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah, wahai Rasulullah, apakah keghaibannya memberikan manfaat kepada para pengikutnya? Rasulullah menjawab: "Demi Zat yang mengutusku dengan Nubuwwah, sungguh mereka mendapatkan cahaya sinarnya, dan memperolehi manfaat dengan wilayahnya dalam keghaibannya seperti manusia mendapat manfaat dari matahari walaupun ia ditutupi awan. Wahai Jabir, ia tersembunyi oleh rahasia Allah dan terpelihara oleh ilmuNya, maka Allah menyembunyikan kecuali dari Ahlinya".

Rasulullah saaw bersabda: "Aku adalah penghulu para nabi dan Ali adalah penghulu para washi. Sesungguhnya para washi ku berjumlah dua belas orang, yang pertama adalah Ali dan yang terakhir adalah al-Qoim al-Mahdi".(Yanabi'ul Mawaddah, al-Qanduzi al-Hanafi)

Rasulullah saaw bersabda: "Wahai Ali, engkau adalah washi ku. Berperang denganmu berarti berperang denganku, dan berdamai denganmu berarti berdamai denganku. Engkau adalah Imam dan bapak dari para imam yang dua belas, yang mereka disucikan dan dijaga dari dosa. Salah seorang dari mereka adalah al-Mahdi yang akan memenuhi dunia dengan keadilan. Sungguh celaka orang yang membeci mereka".(Yanabi'ul Mawaddah, al-Qanduzi al-Hanafi)

Jalan Allah

وَ مِمَّنْ خَلَقْنا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَ بِهِ يَعْدِلُونَ

181. Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.(Surah al-A'raf ayat 181).

Rasulullah saw bersabda,"Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Tujuh puluh dua golongan akan masuk neraka, sedangkan satu golongan akan masuk surga. Mereka adalah engkau dan pengikutmu, wahai Ali, karena engkau tidak pernah berpisah dari kebenaran dan mereka tidak berpisah darimu. Karena itu, mereka senantiasa bersama kebenaran."[2]

[2] Ta'wil al-Ayat, jil. I, hal. 190 hadis ke-38; Kitab Sulaim, hal 169-332; al-Wasail, jil. XXVII, hal. 50 hadis ke-33180

Allamah M.H. Thaba'thaba'i

Tafsir Al-Mizan


Biografi Allamah Thaba’thabai

Sosok kita yang satu ini adalah seorang mufasir dan filsuf besar. Diantara karya qurani beliau yang paling berharga adalah Tafsir Al-Mizan, yang menjadi salah satu rujukan tafsir kontemporer paling populer. Kitab tafsir ini merupakan salah satu kitab paling komplit dari sisi metode dan muatan. Berikut biografi mufasir besar ini yang ditulis langsung oleh beliau pada awal-awal tahun 1341 Hijriah Syamsiah.
Saya, Muhammad Husain Thaba’thabai, lahir di kota Tabriz pada tahun 1281 H. Sy, di tengah-tengah keluarga pecinta ilmu. Pada usia lima tahun saya ditinggal oleh ibunda tercinta dan tiga tahun setelahnya saya menjadi yatim piatu, karena ditinggal ayah. Mengingat keluarga kami termasuk keluarga yang mampu, kondisi kehidupan kami tetap berjalan dan dengan bantuan seorang wakil (pengasuh) beserta istrinya yang telah ditunjuk oleh ayah, kami meneruskan roda kehidupan yang mesti dilakoni.
Tak lama setelah kepergian ayah, saya dikirim ke sebuah madrasah dan akhirnya saya digembleng oleh sorang guru privat yang selalu datang ke rumah. Dan begitulah, tanpa terasa enam tahun saya mempelajari bahasa Persia dan pelajaran-pelajaran dasar. Pada waktu itu, pelajaran-pelajaan dasar belum memiliki program dan kurikulum khusus dan tetap. Yang saya ingat dari tahun 1290-1296 H. Sy. pelajaran yang paling banyak saya terima adalah Al-Quran, kitab Gulistan, Bustan Sa’di, Nishab, Akhlak Mushawar, Anwar Sahili, Tarikh Mu’jam dan Irsyadul Hisab.
Pada tahun 1297 H. Sy saya mulai memasuki pelajaran agama dan bahasa Arab. Hingga tahun 1304 H. Sy saya sibuk membaca teks-teks pelajaran. Dalam kurun waktu tujuh tahun inilah, saya menamatkan kitab-kitab berikut ini: Amtsilah, Sharf Mir, Tashrif, ‘Awamil dalam Ilmu Nahwu, Anmudaj, Shamadiyah, Suyuthi, Jami dan Mugni tentang penjelasan kitab Muthawal, dalam Fiqih; Syarh Lum’ah, Makasib, dalam Ushul, kitab Ma’alim, Qawanin, Rasail, Kifayah, dalam ilmu Logika; Hasyiah dan Syarh Syamsiyah, dalam filsafat Kitab Syarh Isyarat, dalam teologi kitab Kasyful Murad.
Pada tahun 1304 saya pergi ke Hauzah Najaf untuk meneruskan pelajaran. Di sana saya menghadiri pelajaran Marhum Ayatollah Syekh Muhammad Husain Isfahani. Sekitar 6 tahun pelajaran Ijtihad Ushul dan empat tahun pelajaran kharij Fiqih saya lewati. Begitu juga saya hadir pelajaran kharij fiqih Marhum Ayatollah Naini selama delapan tahun dan sekali menamatkan pelajaran kharij fiqih beliau, serta sedikit hadir dalam pelajaran kharij fiqih Marhum Ayatollah Sayid Abul Hasan Isfahani.
Universalia tentang ilmu Rijal saya terima dari Ayatollah Hujjat Kuh Kamari. Dalam filsafat saya juga mendapat taufik untuk belajar dari seorang filsuf besar saat itu, Sayid Husain Badkubi. Di bawah arahan beliau, dalam waktu enam tahun saya dapat menyelesaikan pelajaran seperti, Mandhumah Sabzawari, Asfar, Masyair Mullah Shadra, Syifa, Tamhid Ibn Turkah dan AkhlakIbn Maskawaih.
Al-Marhum Ustadz Badkubi saking perhatiannya terhadap perkembangan intelektualitas saya, senantiasa menganjurkan kepada saya untuk mempelajari matematika guna memperkuat sistem pemikiran argumentatif dan untuk menguatkan analisa filosofis. Dalam rangka menjalankan petuah beliau akhirnya saya menghadiri pelajaran Sayid Abul Qasim Khansari, ahli matematika yang amat terkenal waktu itu dan saya mulai mempelajari perhitungan argumentatif.
Pada tahun 1314 H. Sy karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan, terpaksa saya kembali ke kampung halaman, kota Tabriz. Sekitar 10 tahun saya di sana. Tanpa basa basi lagi, masa ini merupakan masa yang sangat merugikan jiwa dan mental saya, karena untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan, saya terpaksa terjun ke dunia pertanian dan meninggalkan tadris dan pemikiran ilmiah yang begitu saya gandrungi.
Pada tahun 1325 H. Sy saya mengesampingkan masalah kehidupan dan kampung halaman dan menuju Hauzah ilmiah Qom. Di kota inilah saya kembali menggeluti pembahasan ilmiah dan hingga sekarang tahun 1341 H. Sy saya meneruskan aktivitas ini. Hanya saja perlu dipahami setiap orang dalam kehidupannya pasti menghadapi manis - pahitnya kehidupan. Saya juga demikian, kehidupan saya diwarnai dengan keyatiman, keterasingan, berpisah dari teman, kekurangan isi saku dan problem-problem lain. Alhasil saya telah menghadapi pasang surutnya kehidupan, dan merasakan berbagai nuansa kehidupan. Akan tetapi saya selalu merasakan ada tangan gaib yang selalu menyelamatkan saya dari gang buntu dan membawa saya kepada cahaya hidayah.
Pada awal-awal pendidikan, saya sibuk dengan pelajaran tata bahasa Arab, Nahwudan Sharaf. Saya tidak memiliki keinginan yang besar untuk melanjutkan pelajaran seperti ini. Oleh karena itu, dengan minat yang minim, saya selalu kesulitan dalam memahami pelajaran yang saya terima. Saya masih ingat empat tahun pelajaran (tata bahasa) itu saya tempuh.
Kemudian pada akhirnya tanpa terasa dan saya sadari, inayah Allah datang dan merubah segalanya. Saya merasa tak kenal lelah dari awal belajar hingga akhir – yang kurang lebih memakan waktu 17 tahun-. Saya juga lupa akan indahnya dunia yang membuat belajar menjadi kurang nikmat dan bersemangat. Saya merasa cukup dengan hal yang sangat sederhana dalam makanan, pakaian dan atribut materi lainnya. Lebih dari itu, saya curahkan semuanya untuk mutala’ah. Sering kali saya belajar semalam suntuk hingga pajar menyingsing (khususnya pada musim panas) dan senantiasa membaca pelajaran yang akan saya pelajari esok harinya, dan jika ada isykalan dengan segala cara saya tuntaskan sendiri. Rasanya tidak pernah saya hadir ke kelas dengan membawa iskalan dan pertanyaan.
Beberapa karya yang saya tulis saat belajar di kota Najaf adalah, Risalah dar Burhan,Risalah dar Mughalathoh, Risalah dar Tahlil, Risalah dar Tarkib, Risalah dar I’tibariyat.Sedang karya-karya saya sewaktu berada di kota Tabriz adalah sebagai berikut; Risalah dar Itsbate dzat, Risalah dar Asma’ wa Sifat, Risalah dar Af’al, Risalah dar Wasaith Khudo wa Insan, Risalah Insan qablaz Dunya, Risalah Insan Fi Dunya, Risalah dar Wilayat dan Risalah dar Nubuwa. Semua risalah-risalah ini berisikan dalil-dalil logis dan tekstual.
Sedangkan hasil karya saya di kota suci Qom adalah Tafsir Mizan yang terbit dalam 20 jilid. Dalam kitab ini saya berusaha menafsirkan Al-Quran dengan metode yang belum pernah digunakan oleh mufasir sebelumnya yaitu metode menafsirkan al-Quran dengan al-Quran, ayat dengan ayat-ayat yang lain. Karya lain saya di kota ini adalah Usul Falsafah (Rawesy realisme), dalam buku ini saya membahas dan membandingkan filsafat barat dan timur, kemudian Hasyiah Kifayatul Usul, Hasyiahterhadap kitab Mulla Shadra yang dicetak dalam 9 jilid. Risalah wilayah dan pemerintahan Islam. Di samping itu, dialog pada tahun 1338 h.sy dengan Profesor Karben, orientalis dari Prancis. Risalah dar I’jaz, Ali wa falsafah Ilahiah, Syi’ah dar Islam, Quran dar Islam, Kumpulan makalah, tanya jawab, pembahasan ilmiah dan filosofis yang beragam, dan terakhir Sunan Nabi. [Era Al-Quran]